Masih saya ingat kejadian pengalaman pertama saya merasakan yang namanya gay sex itu. Dan saya pun melakukannya dengan orang yang tidak saya kenal sama sekali.
Ya bukan dengan teman yang sudah pernah ketemu sebelumnya maksud saya. Bukan juga dengan anggota mailing list yang saya ikuti. Tapi justru dengan orang yang saya kenal di dunia nyata langsung.
Dulu, teman baik di dunia maya saya pernah bilang, kalau gaydar itu ada dan sebenarnya terasah seiring berjalannya waktu. Dan kalau menurut dia:
Dia mengatakannya pas kami sedang menghabiskan waktu di Sarinah, yang saya pernah saya sebut sebagai tempat nongkrong kaum gay di Jakarta itu. Kami pulang nonton film midnight dan tanggung aja pulang langsung. Jadi kami makan, duduk di pinggir jendela kaca McD Sarinah.
Sambil mengasah gaydar kami. hahahaha. Jadi kami melihat dan saling nebak kalau orang yang lewat di samping kami iya apa gak. Gitu seterusnya. Dan ternyata, masalah mengasah gaydar ini benar adanya.
Saya dulu ikut gym - saat itu gym itu gak seperti sekarang yang super mahal. Dan juga sepertinya sekarang sih jadi lahan untuk pamer tubuh. Tapi dulu saya ikut gym itu karena memang murah dan ingin olahraga teratur saja. Toh kantor di bilangan Sudirman gitu. Deketlah.
Di gym itu, saya biasa ke sana pulang kerja. Latihan kardio selama kurang lebih 30 menit, terus lanjut dengan angkat beban dikit-dikit, terus baru deh saudna bentar. Pulang.
Nah enaknya di gym saya kala itu (yang merupakan gym hotel), satu paket sama renang. Jadi kadang saya selingi dengan renang di sana. Gak bosan. Eh jadi ngelantur panjang soal gym.
Back to topic. Saya pun makin lama makin kenal dengan beberapa member tetap yang rutin juga sama saya gym-nya. Hanya sebatas ngobrol aja. Suatu hari ada seorang pria (mid 30 - saat itu saya sendiri baru 25 tahun), datang dan mondar mandir di ruang loker.
Ruang loker gym saya itu luas, ada juga ruang tunggu yang bisa buat tidur dan nonton tv. Enaklah pokoknya. Nah orang ini bolak balik saja dari ruang tunggu itu ke sauna. Terus balik lagi.
Awalnya saya sih cuek saja. Tapi setiap dia lewat di belakang saya yang sedang beres-beres buat pulang, dia pasti menatap saya agak lama. Saya sendiri sih lihat balik karena merasa dilihat. *teori gaydar teman saya bener dong ya*
Terus pas saya lagi pakai wax rambut, dia tiba-tiba ada di samping saya dan ngajak kenalan. Jujur saya sendiri lupa namanya siapa. Just call him Adi. Dia mengenalkan dirinya dan kemudian tukeran nomor.
Saya sendiri belum pernah pacaran saat itu. Biasanya kalau nonton juga bareng teman milis saya itu. Jadi dia sms saya (belum jamannya itu Whatsapp atau aplikasi sosial media lainnya), ngajak makan.
Kami pun janjian makan di Pizza Hut Sarinah selesai gym (keesokan harinya ya). Setelah makan, kami nonton midnight di EX - yang sekarang sudah gak ada lagi itu mallnya.
Selama makan ataupun nonton itu, gak ada kepikiran sama sekali kalau akan berakhir dengan pengalaman pertama saya melakukan sex dengan gay. Tapi itulah yang terjadi.
Kami bicara soal kerjaan dan lainnya selama makan. Kemudian selama nonton, saya fokus banget dengan film yang ada. Dia juga gitu, walau kadang suka senggol-senggol saya dengan tangannya.
Ya maklumlah, saya gak ada pengalaman sama sekali saat itu. Jadi saya malah grogi dan cuekin dia. Gak gubris. Tapi konsentrasi saya ke film sudah pecah saat itu. Sampai sekarang saya sendiri lupa film apa yang saya tonton.
Pulang nonton, dia mengajak saya untuk jalan. Jangan langsung pulang katanya. Saya bilang gak bisa. Saya harus pulang. Dan dia pun mengantarkan saya (saat itu dia dengan sopir).
Itu sih pengalaman kencan (pantas disebut kencan gak?) dengan Adi. Kemudian, pas hari Jumat, dia kembali sms saya. Dia bilang ingin mengajak saya nonton. Saya pun iyakan. Jadi kami pun kembali ke EX untuk nonton.
Pas sebelum masuk bioskop, dia ada menelpon supirnya sih. Saya dengar yang dia katakan. Katanya supirnya balik aja. Gak usah tungguin. Hmmm... saya masih lugu.
Pulang nonton, which was around 1 am (midnight), dia bilang mau mengajak saya ke satu tempat. Saya iyakan saja. Dan ternyata dia mengajak saya ke sebuah hotel di daerah Pasar Baru.
Saya sendiri gak pernah yang namanya ke hotel ini. Ternyata hotelnya itu punya kamar yang terpisah-pisah (kayak bungalo gitu) yang bisa diakses langsung dari parkiran. Jadi satu kamar, depannya mobil gitu.
Begitu masuk dalam kamar, saya pun diam aja. Memang dia ada bilang kalau pengen berduaan sama saya waktu itu. Tapi gak sangka juga kalau seperti ini. Dan saya juga gak pernah infokan hal ini ke teman milis saya itu.
Begitu pintu kamar ditutup, saya langsung duduk di pinggir ranjang. Bengong karena gak paham juga harus ngapain. Dia pun mendekati saya dengan senyumnya yang menurut saya sih manis (kala itu).
Terus dia mencium saya di bibir. Well, that was my first kiss with a man. Rasanya? Suka sih saya ciuman. Enak. Saat bibir ketemu bibir itu, rasanya menyenangkan. Saya lupa kami french kiss apa gak. Tapi kayaknya sih gak.
Dia cuma kiss saya sebentar doang juga kok. Abis itu dia buka baju dan kemejanya dia hingga dia telanjang. Saya bengong aja. Gugup. Gak paham juga harus ngapain.
Terus dia deketin saya dan buka baju saya juga. Gak lama dia rebahkan saya ke kasur dan ciumin saya lagi. Wajah saya diciumin, bibir, pipi, leher terus ke bawah. Tapi yang pasti dia gak jilatin puting saya (dan saya kan gak tahu kalau puting itu salah satu g-spot pada pria).
Terus lanjut ke bawah sampai dia melorotkan celana yang saya pakai saat itu. Jujur yang ada saat itu saya gugup. Jantung saya itu deg deg an banget. Debar jantung saya gak beraturan. Tapi gak seperti dalam kisah-kisah gay sex yang suka saya baca sebelumnya.
Dan saya juga gak praktekin yang saya baca kok. Cuma diam aja. Kebingungan. Dia pun juga sepertinya melakukan dengan tergesa-gesa. Karena gak lama kemudian (kurang dari 5 menit) dia sudah mengangkat kaki saya ke pundaknya.
Sh*t this is it... pikir saya. Inilah saatnya saya merasakan seperti apa anal sex dengan cowok lain. Saya pikir dia kan lakukan dengan kondom dan pelumas atau melemaskan a*us saya dulu. Tapi ternyata tidak.
Dia langsung jleb, goyang dan selesai. He didn't even care whether I was coming out or not. Was I satisfied or not. He didn't even say anything. Selesai itu dia cuma rebahan bentar terus gak lama dia antar saya pulang.
Cuma seperti itu pengalaman sex pertama saya sebagai gay di Jakarta ini. Menyedihkan ya. Saya merasakan banget waktu itu saya sakitnya minta ampun. Dia gak peduli. Dia terus aja goyang.
Belakangan saya baru tahu kalau nikmatnya anal sex dengan seorang gay itu tergantung dari bagaimana si Top memperlakukan Bottom-nya. Jika memang dia memperlakukan dengan baik dan gak cuma sebatas celup celup selesai, anal sex itu bisa nikmat banget.
Makanya sejak itu saya berkata pada diri saya untuk jangan mau melakukan anal sex dengan siapapun juga. Kecuali orang itu yang sayang saya bener-bener. Coz, at the end, if we did it just for fun, apa bedanya kita dengan para pelacur di luaran.
Mereka bisa dapat uang, lah kita? Cuma sakit di lubang doang. Well, tapi kenyataannya beberapa tahun kemudian saya melakukan sex dengan orang yang baru ketemuan sekali doang. Berulang-ulang pula.
Play Roulette for Free with no deposit bonus - CasinoFreibet
BalasHapusRoulette for カジノ シークレット free. Play the best online roulette for free. Free Casino No 카지노 Deposit 제왕카지노 Bonuses 2021 with Free Spins No Deposit Code.