Minggu, 28 Agustus 2016

AKU SUNGGUH MENIKMATIN HOTNYA SUPIR KU

             Saat aku sedang sendirian si rumah, ketika itu dirumah cuma ada aku dan supirku yg kira2 berumur 45th.Oh ya kenalin dulu nama aku Devina selvira . Aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran para cowok. Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan payudara yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan perutku pun ukurannya pas karena rajin olahraga,ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini.Aku pertama mengenal seks dari pacarku yang tak lama kemudian putus.pengalaman pertama itu membuatku haus seks dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh. Beberapa kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang. Aku sangat jenuh dengan kehidupan seksku, aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit dan tak berkutik kehabisan tenaga.Ketika itu aku habiz bangun tidur,tapi hawa dindin yang berhembus membuat tubuhku merasa horny.aku terus ke dapur inin membuat teh hangat,tapi saat kedapur kulihat pak Parjono supirku tertidur tanpa mengenakan baju cuma memakai celana kolor yang pendek.
            Terlihat diamempunyai badan yang tinggi besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan).Aku sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di kotaku.. Begitu juga aku, aku sering membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti apa rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu mengaduk-adukkewanitaanku.Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang, aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kita.tetapi karena mungkin perasaanku yang sudah tidak sabar,aku berpura-pura tidak enak badan dan kubangunkan pak Parjono untuk membuatkan aku teh hangat & kusuruh untuk mengantar kekamar. Di kamar, kubaringkan tubuhku ke ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat kepalaku. Dia tampak tegang dan berkali-kali menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka.
                        apalagi waktu kutekuk kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap.Walaupun memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.Ssshhh…Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.Tenang non…saya sudah daridulu kesengsem sama non, apalagi kalau ngeliat non pake baju olahraga, duh tambah gak kuat abang ngeliatnya juga” katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.Parjono mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok miniku, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei dan kepala Parjono yang terselubung rokku saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku lalu menyentuh bibir kemaluanku.
Bukan hanya bibir kemaluanku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang kemaluanku, rasanya wuiihh…gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku, apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya lagi.Sesaat kemudian, Parjono menarik kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang tersingkap.Dia dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas daging kenyal di baliknya.Non, payudaranya bagus amat….sama bagusnya kaya memeknya, non marah ga saya giniin ?” tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.
       Aku hanya menggelengkan kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Parjono yang merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas payudaraku dengan putingnya yang mungil.Aku merasakan benda keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Parjono kelihatan sangat bernafsu melihat payudaraku yang montok itu.tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin putingnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam.
       Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengangemas.Pada awalnya aku menghindari dicium olehnya karena Parjono perokok jadi bau nafasnya tidak sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku. Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya.Kamilarut dalam birahi sehingga bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Parjono melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang daritadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu besar dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku.
Dengan tetap memakai kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.Ayo non, emutin kemaluan saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama non” katanya.Kubimbing kemaluan dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhhh…susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari kemaluannya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya.namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku.Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.Uaahh…uueennakk banget, non udah pengalaman yah” ceracaunya menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku.Setelah lewat 15 menitan dia melepas kemaluannya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam.
Akupun merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar. Dia berpindah posisi di antara kedua belah pahaku dengan kemaluan terarah ke kemaluanku. Bibir kemaluanku disibakkannya sehingga mengganga lebar siap dimasuki dan tangan yang satunya membimbing kemaluannya menuju sasaran.Tahan yah non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan” katanya Kemaluannya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam kemaluanku.Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Kemaluannya susah sekali menerobos kemaluanku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.Parjono memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih.
Ternyata si Parjono lihai juga, dia memasukkan kemaluannya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat.Kemaluannya menggesek dinding-dinding kemaluanku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar kemaluannya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar.namun Parjonoyang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.Ooohh…Non Devina, sayang…sempit banget memekmu…enaknya !” ceracaunya di tengah aktivitasnya.Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak.
Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat kemaluanku terasa diobok-obok.Ahh…aahh…yeahh, terus entot gua bang” desahku dengan mempererat pelukanku.Aku mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat , kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata Non cantik banget waktu keluar tadi, tapi non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya bukain bajunya yah non, udah basah gini”Aku cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju.
Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Parjono meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang melingkar di jariku.Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos,butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut.Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil menggerayanginya.Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan kemaluanku yang merah merekah di hadapan wajahnya.Parjono mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari kemaluan sampai anusku.
Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir kemaluanku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala kemaluannya.Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh kemaluannya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.Oouuhh…Bang !” itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat kemaluannya amblas kedalamku.Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang.
Dia mencengkamkan kedua tangannya pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kami pun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya.Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumatbibirku.Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar.Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga kemaluan itu menusuk semakin dalam.Mengetahui aku sudah diambang puncak kenikmatan, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang.

Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun.Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku kembali berada di bawah.Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai puncak kenikmatan, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas kemaluannya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.Parjono sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku, kemaluannya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak.
dan akhirnya….dengan geraman panjang dia cabut kemaluannya dari kemaluanku. Isi kemaluannya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dankeringat.Aku yang juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku terpejam, payudaraku naik turun seiring nafasku yang ngos-mekangkang.celah kemaluanku serasa terbuka lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.Sejakdari itu, Parjono sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak mood’ pun dia memaksaku.
ngosan, pahaku masih

Sabtu, 27 Agustus 2016

Selagi masih muda, merantaulah sejauh mungkin.

              Merantau bukanlah hal yang aneh dikalangan orang Indonesia bahkan ada yang menganggapnya bahwa merantau adalah hal yang paling terbaik meskipun dikampung sendiri ada pekerjaan yang sama seperti ditempat rantauan sana.
Sebagai pemuda memang sudah seharusnya kita memiliki mimpi untuk merengkuh dunia. Meraih kesuksesan dan membanggakan orang tua pastinya.
Namun pasti beberapa dari kita sering bingung bagaiamana langkah pertama yang harus dilakukan. Jawabanya simpel, merantaulah.
Cari ilmu ke pulau seberang, cari pengalaman di kota orang lain. Awalnya pasti akan ragu untuk meninggalkan kampung halaman yang nyaman. Merantau akan membuat kita jauh dari orang tua dan orang yang kita sayangi. Tapi itu adalah harga yang harus kita bayar demi meraih impian dan membahagiakan orang yang sudah menemani kita dari kecil.
Jauh dari zona nyaman akan membentuk mental kita semakin dewasa. Kita akan belajar menghadapi kondisi terburuk tanpa harus mengandalkan orang lain. Tanpa ada keluarga yang selalu siap mendukung apapun kondisinya maka kita akan semakin kreatif dan berani mengambil keputusan tanpa ragu-ragu.
Jika di kampung halaman kamu akan mendapatkan perlakuan baik dikarenakan keluargamu yang terpandang dan terhormat, tentu di perantauan tidak ada yang tahu siapa kamu di kampungmu. Kamu hadir di masyarakat di perantauan sebagai individu baru yang tidak diperhitungkan latar belakangmu.
Kamu akan bertanggung jawab dengan segala apa yang kamu lakukan. Sikap arogan dan egois yang tinggi akan semakin terkikis karena kamu akan semakinmenghargai peraturan sosial.
Ditanah rantau, kamu akan mengenal berbagai macam orang dari berbagai daerah. Sebab itu kamu akan mengenal berbagai karakter orang dari berbagai daerah. Sehingga kelak saat dewasa kamu akan tahu bagaimana cara bersikap di depan berbagai macam karakter.
Semakin jauh kamu merantau maka akan semakin kamu merindukan kampung halaman, kamu akan lebih menghargai hal-hal kecil disana. Yang dulunya kamu anggap remeh setelah merantau hal sesederhana apapun akan membuatmu ingin kembali kerumah.
Memang tidak selamanya merantau itu menyenangkan. banyak hal mengecewakan yang akan kamu hadapi. Seperti hal yang tidak sesuai dengan harapan, uang bulanan yang telat bahkan kelaparan. Tapi hal semacam ini yang akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat.
Jadi apa yang kamu tunggu? segera merantaulah…. jangan sakit baru pulang. Ingat orang tuamu ambil nomor rekening Banknya jangan lupa pula sisihkan untuk pernikahanmu dengan kekasihmu dikampung.
Jangan lupa bagikan ya karena pemuda harus sukses meskipun umurnya masih kepala dua puluhan sekalipun.

Pengalaman Pertama Sex Gay

           Masih saya ingat kejadian pengalaman pertama saya merasakan yang namanya gay sex itu. Dan saya pun melakukannya dengan orang yang tidak saya kenal sama sekali. 

Ya bukan dengan teman yang sudah pernah ketemu sebelumnya maksud saya. Bukan juga dengan anggota mailing list yang saya ikuti. Tapi justru dengan orang yang saya kenal di dunia nyata langsung. 

Dulu, teman baik di dunia maya saya pernah bilang, kalau gaydar itu ada dan sebenarnya terasah seiring berjalannya waktu. Dan kalau menurut dia:

Dia mengatakannya pas kami sedang menghabiskan waktu di Sarinah, yang saya pernah saya sebut sebagai tempat nongkrong kaum gay di Jakarta itu. Kami pulang nonton film midnight dan tanggung aja pulang langsung. Jadi kami makan, duduk di pinggir jendela kaca McD Sarinah. 

Sambil mengasah gaydar kami. hahahaha. Jadi kami melihat dan saling nebak kalau orang yang lewat di samping kami iya apa gak. Gitu seterusnya. Dan ternyata, masalah mengasah gaydar ini benar adanya. 

Saya dulu ikut gym - saat itu gym itu gak seperti sekarang yang super mahal. Dan juga sepertinya sekarang sih jadi lahan untuk pamer tubuh. Tapi dulu saya ikut gym itu karena memang murah dan ingin olahraga teratur saja. Toh kantor di bilangan Sudirman gitu. Deketlah. 

Di gym itu, saya biasa ke sana pulang kerja. Latihan kardio selama kurang lebih 30 menit, terus lanjut dengan angkat beban dikit-dikit, terus baru deh saudna bentar. Pulang. 

Nah enaknya di gym saya kala itu (yang merupakan gym hotel), satu paket sama renang. Jadi kadang saya selingi dengan renang di sana. Gak bosan. Eh jadi ngelantur panjang soal gym. 

Back to topic. Saya pun makin lama makin kenal dengan beberapa member tetap yang rutin juga sama saya gym-nya. Hanya sebatas ngobrol aja. Suatu hari ada seorang pria (mid 30 - saat itu saya sendiri baru 25 tahun), datang dan mondar mandir di ruang loker. 

Ruang loker gym saya itu luas, ada juga ruang tunggu yang bisa buat tidur dan nonton tv. Enaklah pokoknya. Nah orang ini bolak balik saja dari ruang tunggu itu ke sauna. Terus balik lagi. 

Awalnya saya sih cuek saja. Tapi setiap dia lewat di belakang saya yang sedang beres-beres buat pulang, dia pasti menatap saya agak lama. Saya sendiri sih lihat balik karena merasa dilihat. *teori gaydar teman saya bener dong ya*

Terus pas saya lagi pakai wax rambut, dia tiba-tiba ada di samping saya dan ngajak kenalan. Jujur saya sendiri lupa namanya siapa. Just call him Adi. Dia mengenalkan dirinya dan kemudian tukeran nomor.

Saya sendiri belum pernah pacaran saat itu. Biasanya kalau nonton juga bareng teman milis saya itu. Jadi dia sms saya (belum jamannya itu Whatsapp atau aplikasi sosial media lainnya), ngajak makan. 

Kami pun janjian makan di Pizza Hut Sarinah selesai gym (keesokan harinya ya). Setelah makan, kami nonton midnight di EX - yang sekarang sudah gak ada lagi itu mallnya. 

Selama makan ataupun nonton itu, gak ada kepikiran sama sekali kalau akan berakhir dengan pengalaman pertama saya melakukan sex dengan gay. Tapi itulah yang terjadi. 

Kami bicara soal kerjaan dan lainnya selama makan. Kemudian selama nonton, saya fokus banget dengan film yang ada. Dia juga gitu, walau kadang suka senggol-senggol saya dengan tangannya. 

Ya maklumlah, saya gak ada pengalaman sama sekali saat itu. Jadi saya malah grogi dan cuekin dia. Gak gubris. Tapi konsentrasi saya ke film sudah pecah saat itu. Sampai sekarang saya sendiri lupa film apa yang saya tonton. 

Pulang nonton, dia mengajak saya untuk jalan. Jangan langsung pulang katanya. Saya bilang gak bisa. Saya harus pulang. Dan dia pun mengantarkan saya (saat itu dia dengan sopir). 

Itu sih pengalaman kencan (pantas disebut kencan gak?) dengan Adi. Kemudian, pas hari Jumat, dia kembali sms saya. Dia bilang ingin mengajak saya nonton. Saya pun iyakan. Jadi kami pun kembali ke EX untuk nonton. 

Pas sebelum masuk bioskop, dia ada menelpon supirnya sih. Saya dengar yang dia katakan. Katanya supirnya balik aja. Gak usah tungguin. Hmmm... saya masih lugu. 

Pulang nonton, which was around 1 am (midnight), dia bilang mau mengajak saya ke satu tempat. Saya iyakan saja. Dan ternyata dia mengajak saya ke sebuah hotel di daerah Pasar Baru. 

Saya sendiri gak pernah yang namanya ke hotel ini. Ternyata hotelnya itu punya kamar yang terpisah-pisah (kayak bungalo gitu) yang bisa diakses langsung dari parkiran. Jadi satu kamar, depannya mobil gitu. 

Begitu masuk dalam kamar, saya pun diam aja. Memang dia ada bilang kalau pengen berduaan sama saya waktu itu. Tapi gak sangka juga kalau seperti ini. Dan saya juga gak pernah infokan hal ini ke teman milis saya itu. 

Begitu pintu kamar ditutup, saya langsung duduk di pinggir ranjang. Bengong karena gak paham juga harus ngapain. Dia pun mendekati saya dengan senyumnya yang menurut saya sih manis (kala itu). 

Terus dia mencium saya di bibir. Well, that was my first kiss with a man. Rasanya? Suka sih saya ciuman. Enak. Saat bibir ketemu bibir itu, rasanya menyenangkan. Saya lupa kami french kiss apa gak. Tapi kayaknya sih gak. 

Dia cuma kiss saya sebentar doang juga kok. Abis itu dia buka baju dan kemejanya dia hingga dia telanjang. Saya bengong aja. Gugup. Gak paham juga harus ngapain. 

Terus dia deketin saya dan buka baju saya juga. Gak lama dia rebahkan saya ke kasur dan ciumin saya lagi. Wajah saya diciumin, bibir, pipi, leher terus ke bawah. Tapi yang pasti dia gak jilatin puting saya (dan saya kan gak tahu kalau puting itu salah satu g-spot pada pria). 

Terus lanjut ke bawah sampai dia melorotkan celana yang saya pakai saat itu. Jujur yang ada saat itu saya gugup. Jantung saya itu deg deg an banget. Debar jantung saya gak beraturan. Tapi gak seperti dalam kisah-kisah gay sex yang suka saya baca sebelumnya. 

Dan saya juga gak praktekin yang saya baca kok. Cuma diam aja. Kebingungan. Dia pun juga sepertinya melakukan dengan tergesa-gesa. Karena gak lama kemudian (kurang dari 5 menit) dia sudah mengangkat kaki saya ke pundaknya. 

Sh*t this is it... pikir saya. Inilah saatnya saya merasakan seperti apa anal sex dengan cowok lain. Saya pikir dia kan lakukan dengan kondom dan pelumas atau melemaskan a*us saya dulu. Tapi ternyata tidak. 

Dia langsung jleb, goyang dan selesai. He didn't even care whether I was coming out or not. Was I satisfied or not. He didn't even say anything. Selesai itu dia cuma rebahan bentar terus gak lama dia antar saya pulang.

Cuma seperti itu pengalaman sex pertama saya sebagai gay di Jakarta ini. Menyedihkan ya. Saya merasakan banget waktu itu saya sakitnya minta ampun. Dia gak peduli. Dia terus aja goyang. 

Belakangan saya baru tahu kalau nikmatnya anal sex dengan seorang gay itu tergantung dari bagaimana si Top memperlakukan Bottom-nya. Jika memang dia memperlakukan dengan baik dan gak cuma sebatas celup celup selesai, anal sex itu bisa nikmat banget. 

Makanya sejak itu saya berkata pada diri saya untuk jangan mau melakukan anal sex dengan siapapun juga. Kecuali orang itu yang sayang saya bener-bener. Coz, at the end, if we did it just for fun, apa bedanya kita dengan para pelacur di luaran. 

Mereka bisa dapat uang, lah kita? Cuma sakit di lubang doang. Well, tapi kenyataannya beberapa tahun kemudian saya melakukan sex dengan orang yang baru ketemuan sekali doang. Berulang-ulang pula. 

Pengalaman Pertama Sex Gay

           Masih saya ingat kejadian pengalaman pertama saya merasakan yang namanya gay sex itu. Dan saya pun melakukannya dengan orang yang tidak saya kenal sama sekali. 

Ya bukan dengan teman yang sudah pernah ketemu sebelumnya maksud saya. Bukan juga dengan anggota mailing list yang saya ikuti. Tapi justru dengan orang yang saya kenal di dunia nyata langsung. 

Dulu, teman baik di dunia maya saya pernah bilang, kalau gaydar itu ada dan sebenarnya terasah seiring berjalannya waktu. Dan kalau menurut dia:

Dia mengatakannya pas kami sedang menghabiskan waktu di Sarinah, yang saya pernah saya sebut sebagai tempat nongkrong kaum gay di Jakarta itu. Kami pulang nonton film midnight dan tanggung aja pulang langsung. Jadi kami makan, duduk di pinggir jendela kaca McD Sarinah. 

Sambil mengasah gaydar kami. hahahaha. Jadi kami melihat dan saling nebak kalau orang yang lewat di samping kami iya apa gak. Gitu seterusnya. Dan ternyata, masalah mengasah gaydar ini benar adanya. 

Saya dulu ikut gym - saat itu gym itu gak seperti sekarang yang super mahal. Dan juga sepertinya sekarang sih jadi lahan untuk pamer tubuh. Tapi dulu saya ikut gym itu karena memang murah dan ingin olahraga teratur saja. Toh kantor di bilangan Sudirman gitu. Deketlah. 

Di gym itu, saya biasa ke sana pulang kerja. Latihan kardio selama kurang lebih 30 menit, terus lanjut dengan angkat beban dikit-dikit, terus baru deh saudna bentar. Pulang. 

Nah enaknya di gym saya kala itu (yang merupakan gym hotel), satu paket sama renang. Jadi kadang saya selingi dengan renang di sana. Gak bosan. Eh jadi ngelantur panjang soal gym. 

Back to topic. Saya pun makin lama makin kenal dengan beberapa member tetap yang rutin juga sama saya gym-nya. Hanya sebatas ngobrol aja. Suatu hari ada seorang pria (mid 30 - saat itu saya sendiri baru 25 tahun), datang dan mondar mandir di ruang loker. 

Ruang loker gym saya itu luas, ada juga ruang tunggu yang bisa buat tidur dan nonton tv. Enaklah pokoknya. Nah orang ini bolak balik saja dari ruang tunggu itu ke sauna. Terus balik lagi. 

Awalnya saya sih cuek saja. Tapi setiap dia lewat di belakang saya yang sedang beres-beres buat pulang, dia pasti menatap saya agak lama. Saya sendiri sih lihat balik karena merasa dilihat. *teori gaydar teman saya bener dong ya*

Terus pas saya lagi pakai wax rambut, dia tiba-tiba ada di samping saya dan ngajak kenalan. Jujur saya sendiri lupa namanya siapa. Just call him Adi. Dia mengenalkan dirinya dan kemudian tukeran nomor.

Saya sendiri belum pernah pacaran saat itu. Biasanya kalau nonton juga bareng teman milis saya itu. Jadi dia sms saya (belum jamannya itu Whatsapp atau aplikasi sosial media lainnya), ngajak makan. 

Kami pun janjian makan di Pizza Hut Sarinah selesai gym (keesokan harinya ya). Setelah makan, kami nonton midnight di EX - yang sekarang sudah gak ada lagi itu mallnya. 

Selama makan ataupun nonton itu, gak ada kepikiran sama sekali kalau akan berakhir dengan pengalaman pertama saya melakukan sex dengan gay. Tapi itulah yang terjadi. 

Kami bicara soal kerjaan dan lainnya selama makan. Kemudian selama nonton, saya fokus banget dengan film yang ada. Dia juga gitu, walau kadang suka senggol-senggol saya dengan tangannya. 

Ya maklumlah, saya gak ada pengalaman sama sekali saat itu. Jadi saya malah grogi dan cuekin dia. Gak gubris. Tapi konsentrasi saya ke film sudah pecah saat itu. Sampai sekarang saya sendiri lupa film apa yang saya tonton. 

Pulang nonton, dia mengajak saya untuk jalan. Jangan langsung pulang katanya. Saya bilang gak bisa. Saya harus pulang. Dan dia pun mengantarkan saya (saat itu dia dengan sopir). 

Itu sih pengalaman kencan (pantas disebut kencan gak?) dengan Adi. Kemudian, pas hari Jumat, dia kembali sms saya. Dia bilang ingin mengajak saya nonton. Saya pun iyakan. Jadi kami pun kembali ke EX untuk nonton. 

Pas sebelum masuk bioskop, dia ada menelpon supirnya sih. Saya dengar yang dia katakan. Katanya supirnya balik aja. Gak usah tungguin. Hmmm... saya masih lugu. 

Pulang nonton, which was around 1 am (midnight), dia bilang mau mengajak saya ke satu tempat. Saya iyakan saja. Dan ternyata dia mengajak saya ke sebuah hotel di daerah Pasar Baru. 

Saya sendiri gak pernah yang namanya ke hotel ini. Ternyata hotelnya itu punya kamar yang terpisah-pisah (kayak bungalo gitu) yang bisa diakses langsung dari parkiran. Jadi satu kamar, depannya mobil gitu. 

Begitu masuk dalam kamar, saya pun diam aja. Memang dia ada bilang kalau pengen berduaan sama saya waktu itu. Tapi gak sangka juga kalau seperti ini. Dan saya juga gak pernah infokan hal ini ke teman milis saya itu. 

Begitu pintu kamar ditutup, saya langsung duduk di pinggir ranjang. Bengong karena gak paham juga harus ngapain. Dia pun mendekati saya dengan senyumnya yang menurut saya sih manis (kala itu). 

Terus dia mencium saya di bibir. Well, that was my first kiss with a man. Rasanya? Suka sih saya ciuman. Enak. Saat bibir ketemu bibir itu, rasanya menyenangkan. Saya lupa kami french kiss apa gak. Tapi kayaknya sih gak. 

Dia cuma kiss saya sebentar doang juga kok. Abis itu dia buka baju dan kemejanya dia hingga dia telanjang. Saya bengong aja. Gugup. Gak paham juga harus ngapain. 

Terus dia deketin saya dan buka baju saya juga. Gak lama dia rebahkan saya ke kasur dan ciumin saya lagi. Wajah saya diciumin, bibir, pipi, leher terus ke bawah. Tapi yang pasti dia gak jilatin puting saya (dan saya kan gak tahu kalau puting itu salah satu g-spot pada pria). 

Terus lanjut ke bawah sampai dia melorotkan celana yang saya pakai saat itu. Jujur yang ada saat itu saya gugup. Jantung saya itu deg deg an banget. Debar jantung saya gak beraturan. Tapi gak seperti dalam kisah-kisah gay sex yang suka saya baca sebelumnya. 

Dan saya juga gak praktekin yang saya baca kok. Cuma diam aja. Kebingungan. Dia pun juga sepertinya melakukan dengan tergesa-gesa. Karena gak lama kemudian (kurang dari 5 menit) dia sudah mengangkat kaki saya ke pundaknya. 

Sh*t this is it... pikir saya. Inilah saatnya saya merasakan seperti apa anal sex dengan cowok lain. Saya pikir dia kan lakukan dengan kondom dan pelumas atau melemaskan a*us saya dulu. Tapi ternyata tidak. 

Dia langsung jleb, goyang dan selesai. He didn't even care whether I was coming out or not. Was I satisfied or not. He didn't even say anything. Selesai itu dia cuma rebahan bentar terus gak lama dia antar saya pulang.

Cuma seperti itu pengalaman sex pertama saya sebagai gay di Jakarta ini. Menyedihkan ya. Saya merasakan banget waktu itu saya sakitnya minta ampun. Dia gak peduli. Dia terus aja goyang. 

Belakangan saya baru tahu kalau nikmatnya anal sex dengan seorang gay itu tergantung dari bagaimana si Top memperlakukan Bottom-nya. Jika memang dia memperlakukan dengan baik dan gak cuma sebatas celup celup selesai, anal sex itu bisa nikmat banget. 

Makanya sejak itu saya berkata pada diri saya untuk jangan mau melakukan anal sex dengan siapapun juga. Kecuali orang itu yang sayang saya bener-bener. Coz, at the end, if we did it just for fun, apa bedanya kita dengan para pelacur di luaran. 

Mereka bisa dapat uang, lah kita? Cuma sakit di lubang doang. Well, tapi kenyataannya beberapa tahun kemudian saya melakukan sex dengan orang yang baru ketemuan sekali doang. Berulang-ulang pula.